Search This Blog

Showing posts with label Vaksinasi. Show all posts
Showing posts with label Vaksinasi. Show all posts

Tuesday, July 9, 2013

[INFO] 7 Vaksin yang Tidak Boleh Terlewatkan...

dr. Febbiana (Rumah Vaksinasi Cibubur) sedang memvaksinasi baby Kiel
TEMPO.CO, Jakarta - Vaksin atau imunisasi umumnya dikaitkan dengan anak-anak. Jarang terlihat, orang dewasa giat melakukan vaksinasi. Bahkan, menurut laporan terbaru dari Universitas Michigan, 61 persen orang dewasa tidak tahu kapan mereka terakhir divaksin.

Hanya 20 persen orang dewasa mengatakan mereka menerima vaksin dalam 10 tahun terakhir. Ini merupakan batas waktu kekuatan vaksin dalam tubuh manusia. Padahal, vaksin harus selalu diperhatikan.

Berikut 7 vaksin yang harus selalu diperhatikan, seperti dikutip dalam situs Women’s Health Magazine, Jumat, 28 Juni 2013.

1. Vaksin Flu
Flu, memang terdengar sebagai penyakit yang ringan. Namun, gejala flu dapat mengggangu aktivitas. Sejak flu selalu berkembang dari tahun ke tahun, vaksin flu dianjurkan dilakukan setiap setahun sekali. Pada wanita hamil, vaksin ini dapat mengurangi risiko keguguran dan komplikasi lainnya.

2. Vaksin HPV
Vaksin ini melindungi kita dari virus human papiloma. Idealnya, vaksin ini diberikan sebelum usia 26 tahun, terutama sebelum terjadi kontak seksual.

3. Vaksin meningokokus
Vaksin ini dapat mencegah penyakit meningitis yang mematikan dan datang tiba-tiba. Idealnya, vaksin ini diberikan menjelang usia remaja. Namun, beberapa ahli menyarankan pemberian vaksin ini dapat dilakukan sebelum mengunjungi negara endemik meningitis, seperti Afrika. Selain itu, vaksin ini juga harus diberikan pada seseorang yang limpanya diangkat atau rusak.

4.Vaksin MMR.
Semua anak diwajibkan untuk mendapatkan vaksin MMR (campak, gondok, rubella). Namun, orang dewasa lupa apakah sudah mendapatkan vaksin ini atau belum, uji laboratorium dapat menjawabnya. Vaksin ini tidak perlu berulang. Cukup satu kali seumur hidup.

5. Vaksin Varicella.
Vaksin ini mencegah seseorang menderita penyakit cacat air. Jika Anda lupa, apakah pernah menderita cacar air atau bahkan tidak memerlukan vaksin ini maka sebaiknya Anda memeriksakan diri apakah Anda perlu perlindungan vaksin.

6. Vaksin hepatitis B
Umumnya, hepatitis B dilakukan pada anak-anak. Namun, jika orang dewasa belum menerimanya, vaksin ini juga tetap harus dilakukan. Orang yang memiliki banyak pasangan seks, penderita penyakiit hati dan ginjal kronis, penderita diabetes di bawah usia 60 tahun, petugas kesehatan, pengidap HIV, dan pelancong ke negara endemik hepatitis B, sangat disarankan untuk tidak melewatkan vaksinasi ini.

7. Vaksin hepatitis A
Hepatitis A cukup dilakukan sekali seumur hidup. Jika saat kanak-kanak belum mendapatkan vaksin ini maka saat dewasa vaksin ini harus disuntikkan, terutama pada penderita penyakit hati kronis, pasien dengan konsentrat faktor pembekuan, dan pelancong yang akan bepergian ke negara endemik hepatitis A.

sumber : www.tempo.co.id

Monday, June 3, 2013

Bila Orang Tua Tak Dapat Vaksin MMR, Bayi akan Lahir Buta dan Tuli

Jakarta, Vaksinasi amat penting diberikan sebagai tindakan pencegahan terhadap beberapa jenis penyakit. Apabila dilewatkan, dampaknya tak hanya menyerang diri sendiri, tapi juga keturunan. Misalnya kasus wabah rubella di Inggris yang berisiko membuat bayi-bayi di sana terlahir buta.

Profesor Colin Blakemore, mantan kepala eksekutif dari Medical Research Council di Inggris, mengatakan bahwa wanita hamil yang terinfeksi rubella akan berisiko tinggi melahirkan bayi dengan kelainan buta, tuli dan gangguan jantung.

Pernyataan prof Blakemore ini mengacu pada wabah rubella atau campak Jerman yang melanda South Wales, Inggris. Sampai saat ini, setidaknya 1.356 orang yang terinfeksi. Menurut Blakemore, ini barulah tahap pertama dari dampak jangka panjang yang bisa ditimbulkan oleh wabah rubella dan gondok.

"Jangan lupa bahwa bayi yang tidak diberi vaksin di MMR pada puncak krisisnya sekarang berada di masa awal remaja. Tak butuh waktu lama bagi gadis-gadis ini untuk hamil. Mereka menghadapi konsekuensi dari kurangnya perlindungan terhadap penyakit lain," kata Prof Blakemore seperti dilansir Telegraph, Minggu (1/6/2013).

Pemberian vaksin MMR diketahui bisa mencegah penyakit mump (gondongan), measles (campak) dan rubella (campak Jerman). Vaksin ini biasanya diberikan pada anak berusia di atas 1 tahun. Di Inggris, ternyata pemberian vaksin MMR masih menemui kendala.

Diperkirakan lebih dari 300.000 anak-anak yang kini berusia 10 - 16 tahun di sana belum divaksinasi. Masih banyaknya masyarakat yang menolak vaksinasi disebabkan karena pernyataan seorang peneliti di Inggris bernama Andrew Wakefield yang mengaitkan vaksinasi MMR dengan risiko autisme.

"Gondok dapat membuat pria menjadi mandul. Wanita yang terinfeksi Rubella memiliki 20 persen kemungkinan mengalami aborsi. Sebagian besar bayi yang bisa bertahan hidup menderita ketulian, kebutaan dan sindrom kelainan jantung yang tak dapat disembuhkan akibat rubella," terang prof Blakemore.

Lembaga bentukan Departemen Kesehatan Inggris bernama Public Health England sudah mengkampanyekan dukungannya terhadap vaksin MMR. Mereka juga mendesak para remaja yang belum divaksinasi untuk segara disuntik vaksin MMR.

Sumber : Detik Health

Wednesday, May 29, 2013

10 Alasan Orang Dewasa Perlu Imunisasi

Untuk tetap sehat, orang lebih banyak fokus pada berolahraga, pola makan yang lebih baik, atau berhenti merokok. Tapi masih jarang dijumpai untuk melakukan vaksinasi. Hal ini disebabkan karena mahalnya  vaksinasi atau tidak mendapat anjuran dari dokter, sehingga banyak yang mengabaikannya. Padahal mendapat vaksinasi adalah strategi yang relatif sederhana untuk menjaga kesehatan terhadap berbagai penyakit infeksi yang menular seperti influensa, pneumonia, batuk rejan (pertusis), hepatitis, tifoid, herpes zoster , dan banyak lagi.

Masih rendahnya orang dewasa yang melakukan vaksinasi, menjadikan diri mereka sendiri dan orang di sekitar mereka beresiko lebih besar menderita penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin demikian menurut Dr Howard Koh selaku asisten sekretaris Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Padahal selain untuk melindungi diri dari penyakit menular, imunisasi juga melindungi orang lain.

Sementara itu, Dr. dr Iris Rengganis dalam acara sosialisasi imunisasi dewasa di RSCM Kencana, Jakarta (22/05), juga menambahkan bahwa imunisasi juga berkontribusi terhadap apa yang disebut kekebalan kelompok. Semakin banyak orang yang diimunisasi, semakin kecil kemungkinan bahwa seseorang yang tidak diimunisasi atau resisten akan tertular penyakit infeksi.

Inilah 10 alasan mengapa kita perlu melakukan vaksinasi:
  1. Pemberantasan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin belum sepenuhnya tuntas, artinya tanpa perlindungan vaksin, kita akan mudah mengalami wabah penyakit, sakit yang lebih berat, dan kematian. 
  2. Vaksin akan membantu kita tetap sehat. Bila kita mengabaikan imunisasi, kitapun rentan terhadap penyakit seperti herpes zoster, penyakit pneumokokus, influenza, serta HPV dan hepatitis B penyebab utama kanker. 
  3. Vaksin adalah salah satu yang paling sederhana, paling nyaman, dan pencegahan paling aman terhadap berbagai penyakit. 
  4. Vaksinasi dapat berarti perbedaan antara hidup dan mati. Setiap tahun, puluhan ribu orang dewasa meninggal karena penyakit yang mereka bisa hindari dengan vaksinasi. 
  5. Vaksin adalah aman. Jangan salah, vaksin adalah salah satu produk paling aman daripada berbagai obat dan mendapat pengawasan ketat dari badan WHO dalam memproduksinya. 
  6. Vaksin dirancang untuk mencegah, artinya meski beberapa vaksin dibuat dari virus yang dilemahkan, bukan berarti menyebakan kita “menangkap” virus penyakit dari vaksin tersebut dan menimbulkan kesakitan. 
  7. Setiap orang rentan tertular penyakit. Bayi dan orang tua berada pada risiko yang lebih besar untuk terjadi infeksi dan komplikasi serius dalam banyak kasus, tetapi penyakit dapat dicegah dengan vaksin bisa menyerang siapa saja. Jika kita masih muda dan sehat, mendapatkan vaksinasi dapat membantu kita tetap seperti itu. 
  8. Vaksinasi lebih murah daripada upaya pengobatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Sebuah penelitian menunjukkan orang dewasa yang terkena hepatitis A kehilangan rata-rata satu bulan kerja, perawatan dan pengobatan akibat komplikasi pneumonia lebih mahal daripada vaksin pneumonia itu sendiri. 
  9. Ketika kita sakit, orang disekitar kita dapat tertular. Sebuah penyakit dapat dicegah dengan vaksin yang mungkin bisa membuat kita sakit selama satu atau dua minggu, terbukti bisa menimbulkan kematian bagi anak-anak, cucu, atau orang tua kita jika menyebar kepada mereka. Misalnya, orang dewasa adalah sumber yang paling umum dari pertusis (batuk rejan) suatu penyakit infeksi yang mematikan pada bayi. Ketika kita mendapatkan vaksinasi, kita melindungi diri sendiri dan keluarga kita. 
  10. Keluarga dan rekan kerja membutuhkan kita. Ketika kita sakit, tidak hanya menyebabkan ketidakmampuan kita dalam melakukan rutinitas pekerjaan, produktifitas menurun, tapi juga meninggalkan mereka tidak mampu merawat mereka yang bergantung pada mereka, termasuk anak-anak dan / atau orang tua. (Dee)
 Sumber : www.imunindo.com

Fact Sheets : Immunization Coverage (World Immunization Week 2013)

Key facts

  • Immunization prevents illness, disability and death from vaccine-preventable diseases including diphtheria, measles, pertussis, pneumonia, polio, rotavirus diarrhoea, rubella and tetanus.
  • Global vaccination coverage is holding steady.
  • Immunization currently averts an estimated 2 to 3 million deaths every year.
  • But an estimated 22 million infants worldwide are still missing out on basic vaccines.

 

"Immunization averts an estimated 2 to 3 million deaths every year from diphtheria, tetanus, pertussis (whooping cough), and measles"


Overview

Immunization averts an estimated 2 to 3 million deaths every year from diphtheria, tetanus, pertussis (whooping cough), and measles. Global vaccination coverage—the proportion of the world’s children who receive recommended vaccines—has remained steady for the past few years. For example, the percentage of infants fully vaccinated against diphtheria-tetanus-pertussis (DTP3) was 83% in 2011, 84% in 2010 and 83% in 2009.
 
During 2011, about 107 million infants worldwide got three doses of DTP3 vaccine, protecting them against infectious diseases that can cause serious illness and disability or be fatal. By 2011, 130 countries had reached at least 90% coverage of DTP3.

 

Current levels of access to recommended vaccines

  • Haemophilus influenzae type b (Hib) causes meningitis and pneumonia. Hib vaccine was introduced in 177 countries by the end of 2011. Global coverage with three doses of Hib vaccine is estimated at 43%.
  • Hepatitis B is a viral infection that attacks the liver. Hepatitis B vaccine for infants had been introduced nationwide in 180 countries by the end of 2011. Global hepatitis B vaccine coverage is estimated at 75%.
  • Human papillomavirus — the most common viral infection of the reproductive tract — can cause cervical cancer, and other types of cancer and genital warts in both men and women. Human papillomavirus vaccine was introduced in 43 countries by the end of 2011.
  • Measles is a highly contagious disease caused by a virus, which usually results in a high fever and rash, and can lead to blindness, encephalitis or death. By the end of 2011, 84% of children had received one dose of measles vaccine by their second birthday, and 141 countries had included a second dose as part of routine immunization.
  • Meningitis A is an infection that can cause severe brain damage and is often deadly. By the end of 2012—two years after its introduction—the MenAfriVac vaccine, developed by WHO and PATH, was available in 10 of the 26 African countries affected by the disease.
  • Mumps is a highly contagious virus that causes painful swelling at the side of the face under the ears (the parotid glands), fever, headache and muscle aches. It can lead to viral meningitis. Mumps vaccine had been introduced nationwide in 120 countries by the end of 2011.
  • Pneumococcal diseases include pneumonia, meningitis and febrile bacteraemia, as well as otitis media, sinusitis and bronchitis. Pneumococcal vaccine had been introduced in 72 countries by the end of 2011.
  • Polio is a highly infectious viral disease that can cause irreversible paralysis. In 2011, 84% of infants around the world received three doses of polio vaccine. Only three countries—Afghanistan, Nigeria and Pakistan—remain polio-endemic.
  • Rotaviruses are the most common cause of severe diarrhoeal disease in young children throughout the world. Rotavirus vaccine was introduced in 31 countries by the end of 2011.
  • Rubella is a viral disease which is usually mild in children, but infection during early pregnancy may cause fetal death or congenital rubella syndrome, which can lead to defects of the brain, heart, eyes and ears. Rubella vaccine was introduced nationwide in 130 countries by the end of 2011.
  • Tetanus is caused by a bacterium which grows in the absence of oxygen, e.g. in dirty wounds or in the umbilical cord if it is not kept clean. It produces a toxin which can cause serious complications or death. The vaccine to prevent maternal and neonatal tetanus had been introduced in over 100 countries by the end of 2011. Vaccination coverage with at least two doses was estimated at 70%, and an estimated 82% of newborns were protected through immunization. Maternal and neonatal tetanus persist as public health problems in 36 countries, mainly in Africa and Asia.
  • Yellow fever is an acute viral haemorrhagic disease transmitted by infected mosquitoes. As of 2011, yellow fever vaccine had been introduced in routine infant immunization programmes in 36 of the 48 countries and territories at risk for yellow fever in Africa and the Americas.

 

Key challenges


"In 2011, an estimated 22 million infants worldwide were not reached with routine immunization services. About half of them live in three countries: India, Indonesia and Nigeria"

Despite improvements in global vaccine coverage during the past decade, there continue to be regional and local disparities resulting from:
  • limited resources;
  • competing health priorities;
  • poor management of health systems; and
  • inadequate monitoring and supervision.
 
In 2011, an estimated 22 million infants worldwide were not reached with routine immunization services. About half of them live in three countries: India, Indonesia and Nigeria.
Priority needs to be given to strengthening routine vaccination globally, especially in the countries that are home to the highest number of unvaccinated children. Particular efforts are needed to reach the underserved, especially those in remote areas, in deprived urban settings, in fragile states and strife-torn regions.

 

WHO response

WHO is working with countries and partners to improve global vaccination coverage, including through these initiatives adopted by the World Health Assembly in May 2012.

The Global Vaccine Action Plan
The Global Vaccine Action Plan (GVAP) is a roadmap to prevent millions of deaths through more equitable access to vaccines. Countries are aiming to achieve vaccination coverage of ≥90% nationally and ≥80% in every district by 2020. While the GVAP should accelerate control of all vaccine-preventable diseases, polio eradication is set as the first milestone. It also aims to spur research and development for the next generation of vaccines.

The plan was developed by multiple stakeholders—UN agencies, governments, global agencies, development partners, health professionals, academics, manufacturers and civil society. WHO is leading efforts to support regions and countries as they adapt the GVAP for implementation.
 
World Immunization Week
The last week of April each year is marked by WHO and partners as World Immunization Week. In 2013, more than 180 countries, territories and areas are expected to mark the week with activities including vaccination campaigns, training workshops, round-table discussions and public information campaigns. The theme of World Immunization Week is “Protect your world – get vaccinated”. It aims to raise public awareness of how immunization saves lives, encouraging people everywhere to vaccinate themselves and their children against deadly diseases.


Source : WHO - World Immunization Week 2013 - Facts Sheet

Kapan Waktu yang Tepat Lakukan Vaksin HPV dan Papsmear?

Jakarta, Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada leher rahim akibat Human Papilloma Virus (HPV). Tak heran banyak wanita yang dihantui perasaan cemas akan kesehatan miss V-nya.

Tenang, ternyata dengan melakukan vaksinasi dan skrining atau papsmear secara rutin para wanita dapat bernafas lega. Tetapi melakukan vaksinasi atau papsmear tidak sembarangan lho. Ada waktu yang tepat untuk memaksimalkannya.

Dr dr Junita Indarti, SpOG(K) dokter kandungan di RSCM menginformasikan bahwa vaksinasi HPV sebaiknya dilakukan sejak umur 10-55 tahun. "Hal ini untuk memberikan pencegahan sebelum melakukan kontak seksual," terangnya.

Hal ini disampaikannya dalam acara bincang sehat 'Kartini Peduli Kanker Serviks' di RSCM Kencana lantai 5, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4/2013).

dr Junita menambahkan papsmear atau skrining sebaiknya dilakukan 3 tahun setelah melakukan kontak seksual. "Bukan hanya setelah menikah ya, ini yang sering salah ditanyakan. Yang benar adalah 3 tahun setelah melakukan kontak seksual pertama kali," tambahnya.

Namun, jika Anda telah melakukan vaksinasi HPV tetapi belum menikah dalam kurun waktu beberapa tahun tak jadi masalah. "Misalnya saat berumur 26 tahun sudah vaksin, nikahnya baru di usia 28 atau 30an tak jadi masalah," kata dr Junita meyakinkan.

Vaksinasi HPV harus dilakukan sebanyak 3 kali. "Kalau Bivalen itu rentangnya 0,1,6. Kalau Quadrivalen 0,2,6. 0 (nol) adalah saat datang pertama kali, lalu 1 atau 2 bulan kemudian, dan 6 bulan selanjutnya," jelas dr Junita.

Kanker serviks dapat dipicu beberapa faktor. Faktor risiko tersebut yaitu berganti-ganti pasangan seksual, rendahnya imunitas, merokok, memiliki lebih dari 4 anak, serta tidak pernah melakukan skrining atau pemeriksan.

Nah, cegahlah kanker serviks sejak dini dengan melakukan vaksinasi HPV. Dan rutinlah melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan hasil dan penanganan yang tepat.

Sumber : Detik Health

4 Alasan Mengapa Orang Dewasa Harus Imunisasi

Jakarta, Imunisasi adalah tindakan pencegahan penyakit yang umumnya dilakukan pada anak. Tetapi saat ini imunisasi pada dewasa dan usia lanjut mulai digalakkan.

Prof. Dr. dr Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI, FACP, FINASIM dalam acara media briefing Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI di RSCM Kencana, seperti ditulis Kamis (23/5/2013), menjelaskan pentingnya imunisasi pada orang dewasa.

"Kenapa penting dan dianjurkan sebab ada 4 faktor yang memengaruhi yaitu daya tahan, gizi, stresor, kebiasaan hidup saat ini," ucap Prof Samsu.

Menurutnya, gizi, stresor, dan kebiasaan hidup saling mempengaruhi terhadap daya tahan. Orang yang kelebihan atau kekurangan gizi maka kekebalan tubuhnya akan turun. Ditambah lagi gaya hidup saat ini seperti merokok dan kurang olahraga.

Selain itu, menurut profesor yang juga Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, masih terkait dengan daya tahan, depresi kronik juga dikatakan sebagai penyebab dari turunnya kekebalan tubuh.

"Oleh karena itulah mengapa vaksin pada orang dewasa menjadi lebih penting," tegas Prof Samsu.

Namun, sangat disayangkan imunisasi pada orang dewasa masih kurang menggema di masyarakat. Untuk itu, Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI di RSCM menciptakan sebuah website interaktif tentang imunisasi pertama di Indonesia. Masyarakat dapat mengunjunginya di www.imunindo.com.

Prof Samsu dan rekan-rekannya mengharapkan dengan adanya website ini dapat menjadi sumber terpercaya mengenai imunisasi. Selain itu, telah tersedia rumah vaksin yang dapat membantu masyarakat khususnya di Jakarta yaitu di Kramat Jati, Cibubur dan Pondok Gede.

Sumber : Detik Health

Tak Boleh Nikah Kalau Belum Vaksin Tetanus!

Jakarta, Mengurus pernikahan sudah tentu merepotkan. Mulai dari mengurus baju pengantin hingga katering. Namun, jangan lupakan untuk imunisasi tetanus ya.
Mami Papi Malika

"Imunisasi atau vaksinasi tetanus itu penting untuk wanita. Jangan harap KUA mengizinkan untuk nikah kalau belum suntik tetanus," ujar dr Sukamto Koesnoe, Sp.PD, FINASIM.

Hal ini senada dengan pendapat Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI dan juga dr Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD. Dalam acara media briefing Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI di RSCM Kencana, Jakarta, Rabu (22/5/2013), keduanya mengatakan imunisasi tetanus harus dilakukan sebelum menikah.

"Pertama dilakukan sebelum menikah, lalu yang kedua saat trimester pertama kehamilan," kata dr Dirga. Menurut Dirga dengan minimal 2 kali suntik tetanus perlindungannya dapat selama 10 tahun.

Selanjutnya, dr Iris menambahkan bahwa suntik tetanus memang memiliki 5 seri proteksi yaitu pada saat bayi, usia sekolah (SD), wanita usia subur, 1 bulan sebelum menikah, dan saat trimester pertama. "Minimal 2 kali, tetapi lengkapnya 5 kali. Jika 5 kali itu bertahan sampai 25 tahun," kata dr Iris.

Dr Iris menjelaskan jika wanita tidak melakukan imunisasi tetanus besar kemungkinan terinfeksi tetanus saat melahirkan namun angka penyakit tetanus saat ini pada bayi sudah jarang. Selain itu, dr Sukamto kembali mengingatkan untuk tetap waspada pada kejadian tiba-tiba yang rentan mengakibatkan tetanus seperti kecelakaan atau bencana alam.

Sumber : Detik Health

Friday, April 5, 2013

[UPDATED] Peta dan Petunjuk Jalan Rumah Vaksinasi Cibubur

[UPDATED] Peta dan Petunjuk Jalan Rumah Vaksinasi Cibubur

a. Google Maps

Peta Rumah Vaksinasi Cibubur di Google Maps : Rumah Vaksinasi Cibubur @-6.350999,106.883653
https://maps.google.com/maps/ms?hl=en&ptab=0&ie=UTF8&oe=UTF8&msa=0&msid=215150565655662717728.0004d54956a2ee0ad58f8

 b. Peta

Peta Rumah Vaksinasi Cabang Cibubur oi50.tinypic.com/wk1f8g.jpg
 
Peta Rumah Vaksinasi Cibubur















c. Wikimapia

Wikimapia Rumah Vaksinasi Cabang Cibubur :
http://wikimapia.org/26808497/id/Rumah-Vaksinasi-Cabang-Cibubur

d. Patokan Lokasi

Patokan Rumah Vaksinasi Cibubur:
1. Pertigaan Arundina,
2. Samping Apotik Budi Lestari

Rumah Vaksinasi Cibubur - Terjangkau dan Berkualitas

SEJARAH RUMAH VAKSINASI

a. Rumah Vaksinasi

Rumah Vaksinasi didirikan pada akhir Maret 2012 oleh dr. Piprim B. Yanuarso, SpA(K) karena keprihatinan akan mahalnya biaya vaksinasi di Rumah Sakit Swasta. Rumah Vaksinasi herjuang untuk memberikan solusi berupa layanan vaksinasi bagi anak dan dewasa yang murah dengan kualitas prima.
 
Rumah Vaksinasi memperhatikan kesehatan klien secara utuh. Setiap anak yang datang ke Rumah Vaksinasi akan dipantau tumbuh kembangnva. Orang tua juga akan dipandu untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya.

Klien dewasa yang datang untuk imunisasi akan diperiksa kondisi kesehatannya, sehingga kami bisa memberikan solusi yang optimal untuk meningkatkan kesehatan klien.

b. Rumah Vaksinasi Cibubur

Rumah Vaksinasi Cibubur didirikan pada pertengahan Februari 2013 dengan vaksinator yang bertugas adalah dr. Febbiana Tanziah. Vaksinator pada Rumah Vaksinasi Cibubur telah mendapatkan pelatihan mengenai pemberian vaksin yang baik dan benar, manajemen vaksin, support ASI, MPASI dan berfilosofi RUM (Rational Use of Medicine).

c. Kualitas Vaksin

Vaksin yang tersedia di Rumah Vaksinasi disimpan di kulkas yang terus dipantau suhunya dengan termometer khusus. Dengan demikian, vaksin yang diherikan kepada klien akan selalu memiliki kualitas yang baik.

d. Keamanan Vaksin

Kami menyadari hahwa pada setiap pemberian obat ataupun vaksin apapun, selalu ada risiko terjadinya reaksi alergi, walaupun kemungkinannya hanya 1 berbanding 2 juta. Namun, tim Rumah Vaksinasi selalu dilengkapi dengan fasilitas penanganan reaksi alergi dengan cepat demi keamanan klien kami.

e. Pelayanan Yang Murah

Rumah Vaksinasi memberikan pelayanan dengan biaya yang jauh lebih murah dari Rumah Sakit Swasta.

f.  Tenaga Profesional

Tim vaksinasi kami terdiri dari dokter yang terlatih sesuai dengan standar Rumah Vaksinasi.

g. Layanan Kami


Vaksinasi Bayi dan Balita

Vaksinasi Anak Usia Sekolah

Vaksinasi Pra Nikah

Vaksinasi Perusahaan

Vaksinasi Lansia

Vaksinasi Petugas Kebun Binatang

Vaksinasi Boarding School

Program CSR·perusahaan

Vaksinasi Tenaga Kesehatan

Seminar Edukasi Seputar Imunisasi