Search This Blog

Wednesday, May 29, 2013

9. KulTwit @rvaksincibubur EDISI : HEPATITIS B

  Malam, Tweeps.. malam ini kita akan bahas ttg #hepatitisB , simak ya..

    1. #hepatitisB adalah penyakit hati menular yg disbbkn oleh infeksi virus hepatitis B.

    2. Ketika pertama kali terkena infeksi, org tsb menderita “infeksi akut” #hepatitisB.

    3. Infeksi akut #hepatitisB yg dimksd aldh infeksi yg muncul 6 bln slth org tsb terinfeksi virus hep B.

    4. Sebagian org mampu melawan infeksi #hepatitisB tsb dan terbebas dari virusnya, akan ttpi sebagian org lain infeksi berlanjut mjd kronis.

    5. Infeksi kronis #hepatitisB yg dimksd adlh virus hep B tsb msh tersisa di dlm tbhnya.

    6. Pd thn 2009 di US 38,000 orang terinfeksi #hepatitisB

    7. Setiap tahunnya 2,000-4,000 org meninggal di US krn sirosis atau kanker hati yg disebabkan oleh #hepatitisB

    8. Indonesia msh mrpkan daerah endemis #hepatitisB http://t.co/rUtcDLhbCX

    9. #hepatitisB bs menular mll darah, sperma dan cairan tubuh lain dari si penderita.

    10. Jadi yaa bs ditularkan mll hubungan seksual, berbagi jarum suntik, dan bs jd ditularkan dari bumil yg terinfeksi hep B ke bayinya.

    11. #hepatitisB tdk menular mll menyusui, berpelukan, batuk. Tdk spti #hepatitisA, hep B tdk ditularkan mll makanan atau minuman.

    12a. Semua org bs terkena #hepatitisB, namun ada bbrp org yg resiko terkena infeksi #hepatitisB lbh tinggi.

    12b. Yaitu : org yg berhub seks dg penderita hep B, mempunyai psgan seks multipel, penderita PMS, kaum homoseksual, pengguna narkoba suntik

    12c. org yg hidup dg penderita hep B, org yg rutin cuci drh, pekerja yg sering berhub dg drh (dokter/petugas lab/perawat/bidan)

    12d. dan bayi yg lahir dr ibu penderita hep b

    13. Gejala dari #hepatitisB akut : penurunan nafsu mkn, lelah, nyeri otot & sendi, diare & muntah2, kulit berwrn kuning, mata berwrn kuning.

    14. Gejala #hepatitisB akut tsb biasanya muncul pd org dws, anak2 yg terinfeksi sering sekali tdk menunjukkan gejala.

    15a. Jika penyakitnya berlanjut, #hepatitisB bs mjd kronis.

    15b. Hep B kronis tdk menimbulkan gejala. Namun bs menyebabkan kerusakan hati (sirosis), kanker hati dan kematian.

    16. Penderita #hepatitisB kronis, dpt menularkan virus hep b ke org lain, meskipun mreka tdk terlihat atau merasa sakit.

    17. Cara terbaik untuk mencegah #hepatitisB adalah dg vaksinasi.

    18. Untuk apa vaksinasi #hepatitisB ?

    19. Vaksinasi #hepatitisB bs mencegah pykt hep b dan akibat serius dari infeksi hep B termsk kanker hati dan sirosis.

    20. Vaksin #hepatitisB dpt diberikan bersamaan dg vaksin lain.

    21. Dg melakukan vaksinasi #hepatitisB, dpt memberikan perlindungan dari infeksi #hepatitisB mungkin seumur hidup.

    22a. Vaksinasi #hepatitisB rutin direkomendasikan di US pd dws dan anak pd awal thn 1982 dan slrh anak pd thn 1991.

    22b. Sejak thn 1990, infeksi hep B baru pd anak dan dws turun > 95%.

    23. Bayi biasa nya mendpt 3 dosis vaksin #hepatitisB, baru lahir-1m-6m.

    24. Pd org dws bs diberikan 3 dosis dlm jangka wkt 6 bln (0-1-6). sebelum vaksin, dilakukan cek drh terlbh dahulu (hbsag)

    25. Jadi yu mari kita vaksinasi hepatitis B, mencegah lbh baik daripd mengobati loh... :)

8. KulTwit @rvaksincibubur EDISI : Hepatitis A



tweeppss bntr lg kita mulai kultwit soal #hepatitisA nyaaa

1. #Hepatitis adalah peradangan atau infeksi pada hati. Hati adlh organ vital yg memproses nutrien, menyaring darah&melawan infeksi

2. Jika organ hati terkena infeksi(#hepatitis), fungsi tsb bs terganggu.

3a. #Hepatitis biasanya disebabkan oleh virus. Jenis virus biasanya menyebabkan infeksi hepatitis A, hepatitis B, hepatitis C.

3b. Pengguna alkohol berat, bbrp jenis obat dan bbrp kondisi kesehatan bs menyebabkn hepatitis

4. #Hepatitis A adalah penyakit menular pd hati sbg hasil dr infeksi virus hepatitis A (VHA)

5. Indonesia mrpkan daerah endemik #hepatitisA.

6. Awal Jan 2013 Dinkes Cilacap menyatakan KLB #Hepatitis A di daerahnya. http://t.co/8aUyGneNQs

7a. Semua org dpt terkena #hepatitisA,namun orang yg paling berisko terkena adlh org2 yg : travelling ke negara endemis,

7b. berhub seksual dg penderita hepatitis A,kaum gay, drug user, mempnyai kelainan drh (eg:hemofilia), org yg merwt penderita #hepatitisA,

8a. Populasi tertinggi yg sering terinfeksi virus #hepatitisA anak usia >2y. Krn pd usia tsb perlindungan antibodi ibu sdh menghilang,

8b. dan kehidupan sosial semakin luas (meningkatkan paparan thp makanan dan minuman tercemar)

9. Penularan #hepatitisA mll makanan dan minuman yg tercemar.

10a. #HepatitisA bs menyebar ketika : org yg terinfeksi tdk mencuci tangannya stlh dr WC lalu menyentuh makanan atau benda tertentu,

10b. org yg merawat penderita hep A yg tdk mencuci tangan stlh membersihkan kotoran penderita, org yg melakukan hub seksual oral-anal.

11. Jadi sering2lah CUCI TANGAN :) , jng lupa cuci tangan pake sabun ya.

12. Kontaminasi virus #hepatitis A pd makanan, dpt tjd pd smua tahap (memetik, memproses, maupun stlh makanan matang).

13. Ex mkn di luar, penjamu makanannya penderita #hepatitisA, tdk cuci tngn lgs ambil mknan psanan qt dg tgn ny.Nah dr situ qt bs tertular

14. Gejala #hepatitisA tdk muncul pd smua penderitanya. Jika gejala muncul, biasanya 2-6mgg stlh terinfeksi virus.

15. Gjl #hepatitisA yg muncul : demam,nyeri otot,nafsu mkn turun,mual-muntah,nyeri perut, urin yg gelap,wrn kulit/mata kuning,nyeri sendi.

16. Org dpt menularkan #hepatitisA mskipun mrka tdk tampak atau mrasa sakit. Kebanyakan penderita hepatitis A anak&dws tdk ad gejala.

17. Diagnosis #hepatitisA dpt ditegakkan oleh dokter dg melihat gejala dan pemeriksaan darah.

18.Penderita #hepatitisA biasanya akn sembuh sempurna&tdk ada kerusakan pd organ hati.Ttpi kdg bs mnyebabkan gagal hati&kematian (jarang)

19. Upaya pencegahan mrpkan upaya yg terpenting, dilakukan dg pola hidup bersih/sehat dan imunisasi.

20.Sering mencuci tangan dg sabun, terutama stlh dr WC,mengganti diaperssblm menyiapkan makanan bs mbantu mencegah penyebaran #hepatitisA.

10 Alasan Orang Dewasa Perlu Imunisasi

Untuk tetap sehat, orang lebih banyak fokus pada berolahraga, pola makan yang lebih baik, atau berhenti merokok. Tapi masih jarang dijumpai untuk melakukan vaksinasi. Hal ini disebabkan karena mahalnya  vaksinasi atau tidak mendapat anjuran dari dokter, sehingga banyak yang mengabaikannya. Padahal mendapat vaksinasi adalah strategi yang relatif sederhana untuk menjaga kesehatan terhadap berbagai penyakit infeksi yang menular seperti influensa, pneumonia, batuk rejan (pertusis), hepatitis, tifoid, herpes zoster , dan banyak lagi.

Masih rendahnya orang dewasa yang melakukan vaksinasi, menjadikan diri mereka sendiri dan orang di sekitar mereka beresiko lebih besar menderita penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin demikian menurut Dr Howard Koh selaku asisten sekretaris Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Padahal selain untuk melindungi diri dari penyakit menular, imunisasi juga melindungi orang lain.

Sementara itu, Dr. dr Iris Rengganis dalam acara sosialisasi imunisasi dewasa di RSCM Kencana, Jakarta (22/05), juga menambahkan bahwa imunisasi juga berkontribusi terhadap apa yang disebut kekebalan kelompok. Semakin banyak orang yang diimunisasi, semakin kecil kemungkinan bahwa seseorang yang tidak diimunisasi atau resisten akan tertular penyakit infeksi.

Inilah 10 alasan mengapa kita perlu melakukan vaksinasi:
  1. Pemberantasan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin belum sepenuhnya tuntas, artinya tanpa perlindungan vaksin, kita akan mudah mengalami wabah penyakit, sakit yang lebih berat, dan kematian. 
  2. Vaksin akan membantu kita tetap sehat. Bila kita mengabaikan imunisasi, kitapun rentan terhadap penyakit seperti herpes zoster, penyakit pneumokokus, influenza, serta HPV dan hepatitis B penyebab utama kanker. 
  3. Vaksin adalah salah satu yang paling sederhana, paling nyaman, dan pencegahan paling aman terhadap berbagai penyakit. 
  4. Vaksinasi dapat berarti perbedaan antara hidup dan mati. Setiap tahun, puluhan ribu orang dewasa meninggal karena penyakit yang mereka bisa hindari dengan vaksinasi. 
  5. Vaksin adalah aman. Jangan salah, vaksin adalah salah satu produk paling aman daripada berbagai obat dan mendapat pengawasan ketat dari badan WHO dalam memproduksinya. 
  6. Vaksin dirancang untuk mencegah, artinya meski beberapa vaksin dibuat dari virus yang dilemahkan, bukan berarti menyebakan kita “menangkap” virus penyakit dari vaksin tersebut dan menimbulkan kesakitan. 
  7. Setiap orang rentan tertular penyakit. Bayi dan orang tua berada pada risiko yang lebih besar untuk terjadi infeksi dan komplikasi serius dalam banyak kasus, tetapi penyakit dapat dicegah dengan vaksin bisa menyerang siapa saja. Jika kita masih muda dan sehat, mendapatkan vaksinasi dapat membantu kita tetap seperti itu. 
  8. Vaksinasi lebih murah daripada upaya pengobatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Sebuah penelitian menunjukkan orang dewasa yang terkena hepatitis A kehilangan rata-rata satu bulan kerja, perawatan dan pengobatan akibat komplikasi pneumonia lebih mahal daripada vaksin pneumonia itu sendiri. 
  9. Ketika kita sakit, orang disekitar kita dapat tertular. Sebuah penyakit dapat dicegah dengan vaksin yang mungkin bisa membuat kita sakit selama satu atau dua minggu, terbukti bisa menimbulkan kematian bagi anak-anak, cucu, atau orang tua kita jika menyebar kepada mereka. Misalnya, orang dewasa adalah sumber yang paling umum dari pertusis (batuk rejan) suatu penyakit infeksi yang mematikan pada bayi. Ketika kita mendapatkan vaksinasi, kita melindungi diri sendiri dan keluarga kita. 
  10. Keluarga dan rekan kerja membutuhkan kita. Ketika kita sakit, tidak hanya menyebabkan ketidakmampuan kita dalam melakukan rutinitas pekerjaan, produktifitas menurun, tapi juga meninggalkan mereka tidak mampu merawat mereka yang bergantung pada mereka, termasuk anak-anak dan / atau orang tua. (Dee)
 Sumber : www.imunindo.com

Fact Sheets : Immunization Coverage (World Immunization Week 2013)

Key facts

  • Immunization prevents illness, disability and death from vaccine-preventable diseases including diphtheria, measles, pertussis, pneumonia, polio, rotavirus diarrhoea, rubella and tetanus.
  • Global vaccination coverage is holding steady.
  • Immunization currently averts an estimated 2 to 3 million deaths every year.
  • But an estimated 22 million infants worldwide are still missing out on basic vaccines.

 

"Immunization averts an estimated 2 to 3 million deaths every year from diphtheria, tetanus, pertussis (whooping cough), and measles"


Overview

Immunization averts an estimated 2 to 3 million deaths every year from diphtheria, tetanus, pertussis (whooping cough), and measles. Global vaccination coverage—the proportion of the world’s children who receive recommended vaccines—has remained steady for the past few years. For example, the percentage of infants fully vaccinated against diphtheria-tetanus-pertussis (DTP3) was 83% in 2011, 84% in 2010 and 83% in 2009.
 
During 2011, about 107 million infants worldwide got three doses of DTP3 vaccine, protecting them against infectious diseases that can cause serious illness and disability or be fatal. By 2011, 130 countries had reached at least 90% coverage of DTP3.

 

Current levels of access to recommended vaccines

  • Haemophilus influenzae type b (Hib) causes meningitis and pneumonia. Hib vaccine was introduced in 177 countries by the end of 2011. Global coverage with three doses of Hib vaccine is estimated at 43%.
  • Hepatitis B is a viral infection that attacks the liver. Hepatitis B vaccine for infants had been introduced nationwide in 180 countries by the end of 2011. Global hepatitis B vaccine coverage is estimated at 75%.
  • Human papillomavirus — the most common viral infection of the reproductive tract — can cause cervical cancer, and other types of cancer and genital warts in both men and women. Human papillomavirus vaccine was introduced in 43 countries by the end of 2011.
  • Measles is a highly contagious disease caused by a virus, which usually results in a high fever and rash, and can lead to blindness, encephalitis or death. By the end of 2011, 84% of children had received one dose of measles vaccine by their second birthday, and 141 countries had included a second dose as part of routine immunization.
  • Meningitis A is an infection that can cause severe brain damage and is often deadly. By the end of 2012—two years after its introduction—the MenAfriVac vaccine, developed by WHO and PATH, was available in 10 of the 26 African countries affected by the disease.
  • Mumps is a highly contagious virus that causes painful swelling at the side of the face under the ears (the parotid glands), fever, headache and muscle aches. It can lead to viral meningitis. Mumps vaccine had been introduced nationwide in 120 countries by the end of 2011.
  • Pneumococcal diseases include pneumonia, meningitis and febrile bacteraemia, as well as otitis media, sinusitis and bronchitis. Pneumococcal vaccine had been introduced in 72 countries by the end of 2011.
  • Polio is a highly infectious viral disease that can cause irreversible paralysis. In 2011, 84% of infants around the world received three doses of polio vaccine. Only three countries—Afghanistan, Nigeria and Pakistan—remain polio-endemic.
  • Rotaviruses are the most common cause of severe diarrhoeal disease in young children throughout the world. Rotavirus vaccine was introduced in 31 countries by the end of 2011.
  • Rubella is a viral disease which is usually mild in children, but infection during early pregnancy may cause fetal death or congenital rubella syndrome, which can lead to defects of the brain, heart, eyes and ears. Rubella vaccine was introduced nationwide in 130 countries by the end of 2011.
  • Tetanus is caused by a bacterium which grows in the absence of oxygen, e.g. in dirty wounds or in the umbilical cord if it is not kept clean. It produces a toxin which can cause serious complications or death. The vaccine to prevent maternal and neonatal tetanus had been introduced in over 100 countries by the end of 2011. Vaccination coverage with at least two doses was estimated at 70%, and an estimated 82% of newborns were protected through immunization. Maternal and neonatal tetanus persist as public health problems in 36 countries, mainly in Africa and Asia.
  • Yellow fever is an acute viral haemorrhagic disease transmitted by infected mosquitoes. As of 2011, yellow fever vaccine had been introduced in routine infant immunization programmes in 36 of the 48 countries and territories at risk for yellow fever in Africa and the Americas.

 

Key challenges


"In 2011, an estimated 22 million infants worldwide were not reached with routine immunization services. About half of them live in three countries: India, Indonesia and Nigeria"

Despite improvements in global vaccine coverage during the past decade, there continue to be regional and local disparities resulting from:
  • limited resources;
  • competing health priorities;
  • poor management of health systems; and
  • inadequate monitoring and supervision.
 
In 2011, an estimated 22 million infants worldwide were not reached with routine immunization services. About half of them live in three countries: India, Indonesia and Nigeria.
Priority needs to be given to strengthening routine vaccination globally, especially in the countries that are home to the highest number of unvaccinated children. Particular efforts are needed to reach the underserved, especially those in remote areas, in deprived urban settings, in fragile states and strife-torn regions.

 

WHO response

WHO is working with countries and partners to improve global vaccination coverage, including through these initiatives adopted by the World Health Assembly in May 2012.

The Global Vaccine Action Plan
The Global Vaccine Action Plan (GVAP) is a roadmap to prevent millions of deaths through more equitable access to vaccines. Countries are aiming to achieve vaccination coverage of ≥90% nationally and ≥80% in every district by 2020. While the GVAP should accelerate control of all vaccine-preventable diseases, polio eradication is set as the first milestone. It also aims to spur research and development for the next generation of vaccines.

The plan was developed by multiple stakeholders—UN agencies, governments, global agencies, development partners, health professionals, academics, manufacturers and civil society. WHO is leading efforts to support regions and countries as they adapt the GVAP for implementation.
 
World Immunization Week
The last week of April each year is marked by WHO and partners as World Immunization Week. In 2013, more than 180 countries, territories and areas are expected to mark the week with activities including vaccination campaigns, training workshops, round-table discussions and public information campaigns. The theme of World Immunization Week is “Protect your world – get vaccinated”. It aims to raise public awareness of how immunization saves lives, encouraging people everywhere to vaccinate themselves and their children against deadly diseases.


Source : WHO - World Immunization Week 2013 - Facts Sheet

Campak : Masalah kesehatan anak - World Immunization Weeks 2013

World Immunization Week 2013

  • Campak merupakan salah satu penyakit menular yang dapat menginfeksi setiap anak yang tidak terlindungi, tanpa memandang status sosial maupun ekonomi. 
  • Setiap anak yang tidak terlindungi berisiko terinfeksi campak.  
  • Campak sangat berbahaya bila mengenai anak dengan gizi kurang atau sedang menderita satu penyakit lainnya. 
  • Virus campak dapat menyerang sistem pernapasan dan sistem kekebalan, sehingga anak menjadi rentan terhadap berbagai infeski lainnya, seperti pneumonia dan diare. 
  • Anak dengan sistem imun yang rendah (misalnya anak yang mendapatkan pengobatan kanker, penderita HIV) rentan terhadap penyakit campak, dan mempertinggi ancaman terhadap kesehatan mereka.
  • Keberadaan peyakit campak di satu wilayah, dapat diasumsikan sebagai petanda kurang optimalmya sistem pelayanan kesehatan. 
  • Wabah campak yang terjadi pada satu wilayah, disebabkan oleh penyebaran virus campak yang sangat cepat dan menginfeksi anak-anak. 
  • Wabah campak terjadi pada wilayah dengan cakupan imunisasi campak yang rendah. 
  • Pemberian imunisasi campak di satu wilayah akan melindungi anak anak di wilayah tersebut terhadap penyakit campak. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka Imunisasi campak harus mencapai cakupan yang tinggi (>90-95%) pada satu wilayah. 
  • Setiap anggota masyarakat memiliki kewajiban untuk melindungi komunitasnya melawan penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. 
  • 'Kekebalan satu wilayah’ diperoleh dari cakupan imunisasi yang tinggi, dan berfungsi sebagai dinding kekebalan untuk setiap masyarakat wilayah tersebut.
Setiap anak berhak untuk mendapatkan Imunisasi: Imunisasi merupakan tanda cinta orang tua kepada anaknya. Imunisasi hendaknya menjadi suatu norma sosial. Jika anak-anak diimunisasi, berarti kita membantu melindungi komunitas kita. Vaksin aman dan melindungi anak seumur hidupnya.

Badriul Hegar
Ikatan Dokter Anak Indonesia

Sumber : IDAI

Kapan Waktu yang Tepat Lakukan Vaksin HPV dan Papsmear?

Jakarta, Kanker serviks adalah kanker yang terjadi pada leher rahim akibat Human Papilloma Virus (HPV). Tak heran banyak wanita yang dihantui perasaan cemas akan kesehatan miss V-nya.

Tenang, ternyata dengan melakukan vaksinasi dan skrining atau papsmear secara rutin para wanita dapat bernafas lega. Tetapi melakukan vaksinasi atau papsmear tidak sembarangan lho. Ada waktu yang tepat untuk memaksimalkannya.

Dr dr Junita Indarti, SpOG(K) dokter kandungan di RSCM menginformasikan bahwa vaksinasi HPV sebaiknya dilakukan sejak umur 10-55 tahun. "Hal ini untuk memberikan pencegahan sebelum melakukan kontak seksual," terangnya.

Hal ini disampaikannya dalam acara bincang sehat 'Kartini Peduli Kanker Serviks' di RSCM Kencana lantai 5, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4/2013).

dr Junita menambahkan papsmear atau skrining sebaiknya dilakukan 3 tahun setelah melakukan kontak seksual. "Bukan hanya setelah menikah ya, ini yang sering salah ditanyakan. Yang benar adalah 3 tahun setelah melakukan kontak seksual pertama kali," tambahnya.

Namun, jika Anda telah melakukan vaksinasi HPV tetapi belum menikah dalam kurun waktu beberapa tahun tak jadi masalah. "Misalnya saat berumur 26 tahun sudah vaksin, nikahnya baru di usia 28 atau 30an tak jadi masalah," kata dr Junita meyakinkan.

Vaksinasi HPV harus dilakukan sebanyak 3 kali. "Kalau Bivalen itu rentangnya 0,1,6. Kalau Quadrivalen 0,2,6. 0 (nol) adalah saat datang pertama kali, lalu 1 atau 2 bulan kemudian, dan 6 bulan selanjutnya," jelas dr Junita.

Kanker serviks dapat dipicu beberapa faktor. Faktor risiko tersebut yaitu berganti-ganti pasangan seksual, rendahnya imunitas, merokok, memiliki lebih dari 4 anak, serta tidak pernah melakukan skrining atau pemeriksan.

Nah, cegahlah kanker serviks sejak dini dengan melakukan vaksinasi HPV. Dan rutinlah melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan hasil dan penanganan yang tepat.

Sumber : Detik Health

4 Alasan Mengapa Orang Dewasa Harus Imunisasi

Jakarta, Imunisasi adalah tindakan pencegahan penyakit yang umumnya dilakukan pada anak. Tetapi saat ini imunisasi pada dewasa dan usia lanjut mulai digalakkan.

Prof. Dr. dr Samsuridjal Djauzi, Sp.PD-KAI, FACP, FINASIM dalam acara media briefing Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI di RSCM Kencana, seperti ditulis Kamis (23/5/2013), menjelaskan pentingnya imunisasi pada orang dewasa.

"Kenapa penting dan dianjurkan sebab ada 4 faktor yang memengaruhi yaitu daya tahan, gizi, stresor, kebiasaan hidup saat ini," ucap Prof Samsu.

Menurutnya, gizi, stresor, dan kebiasaan hidup saling mempengaruhi terhadap daya tahan. Orang yang kelebihan atau kekurangan gizi maka kekebalan tubuhnya akan turun. Ditambah lagi gaya hidup saat ini seperti merokok dan kurang olahraga.

Selain itu, menurut profesor yang juga Ketua Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI, masih terkait dengan daya tahan, depresi kronik juga dikatakan sebagai penyebab dari turunnya kekebalan tubuh.

"Oleh karena itulah mengapa vaksin pada orang dewasa menjadi lebih penting," tegas Prof Samsu.

Namun, sangat disayangkan imunisasi pada orang dewasa masih kurang menggema di masyarakat. Untuk itu, Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI di RSCM menciptakan sebuah website interaktif tentang imunisasi pertama di Indonesia. Masyarakat dapat mengunjunginya di www.imunindo.com.

Prof Samsu dan rekan-rekannya mengharapkan dengan adanya website ini dapat menjadi sumber terpercaya mengenai imunisasi. Selain itu, telah tersedia rumah vaksin yang dapat membantu masyarakat khususnya di Jakarta yaitu di Kramat Jati, Cibubur dan Pondok Gede.

Sumber : Detik Health

Tak Boleh Nikah Kalau Belum Vaksin Tetanus!

Jakarta, Mengurus pernikahan sudah tentu merepotkan. Mulai dari mengurus baju pengantin hingga katering. Namun, jangan lupakan untuk imunisasi tetanus ya.
Mami Papi Malika

"Imunisasi atau vaksinasi tetanus itu penting untuk wanita. Jangan harap KUA mengizinkan untuk nikah kalau belum suntik tetanus," ujar dr Sukamto Koesnoe, Sp.PD, FINASIM.

Hal ini senada dengan pendapat Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD-KAI dan juga dr Dirga Sakti Rambe, M.Sc-VPCD. Dalam acara media briefing Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI di RSCM Kencana, Jakarta, Rabu (22/5/2013), keduanya mengatakan imunisasi tetanus harus dilakukan sebelum menikah.

"Pertama dilakukan sebelum menikah, lalu yang kedua saat trimester pertama kehamilan," kata dr Dirga. Menurut Dirga dengan minimal 2 kali suntik tetanus perlindungannya dapat selama 10 tahun.

Selanjutnya, dr Iris menambahkan bahwa suntik tetanus memang memiliki 5 seri proteksi yaitu pada saat bayi, usia sekolah (SD), wanita usia subur, 1 bulan sebelum menikah, dan saat trimester pertama. "Minimal 2 kali, tetapi lengkapnya 5 kali. Jika 5 kali itu bertahan sampai 25 tahun," kata dr Iris.

Dr Iris menjelaskan jika wanita tidak melakukan imunisasi tetanus besar kemungkinan terinfeksi tetanus saat melahirkan namun angka penyakit tetanus saat ini pada bayi sudah jarang. Selain itu, dr Sukamto kembali mengingatkan untuk tetap waspada pada kejadian tiba-tiba yang rentan mengakibatkan tetanus seperti kecelakaan atau bencana alam.

Sumber : Detik Health

Imunisasi MMR Bikin Anak Jadi Autis, Benarkah?

Malika Cendekia MMR
Jakarta, Vaksin yang diberikan pada anak-anak diharapkan akan memberikan respons positif pada tubuh anak, yaitu menjadi kebal terhadap suatu penyakit tertentu. Bagaimana dengan penelitian yang menyatakan vaksin Mumps, Morbili, dan Rubela (MMR) justru menyebabkan autisme pada anak?

"Sama sekali tidak benar. Dr Wakefield yang membuat penelitian tersebut bukan ahli vaksin, dia adalah dokter spesialis bedah. Penelitian beliau pada tahun 1999 hanya menggunakan 18 sampel," ujar dr Soedjatmiko, Sp.A(K), M.Si, Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam acara seminar 'Imunisasi Melindungi Anak Indonesia dari Wabah Penyakit, Kecacatan, dan Kematian' yang diselenggarakan di Gedung Prof. dr. Sujudi, Kementerian Kesehatan, Jl Rasuna Said, Jakarta, seperti ditulis Minggu (28/4/2013).

Dilanjutkan lagi oleh dr Soedjatmiko, akibat hasil penelitian dr Wakefield tersebut, banyak penelitian yang dilakukan oleh ahli vaksin di beberapa negara untuk membuktikan kebenarannya.

Hasilnya, 26 penelitian lain yang dipublikasikan oleh American Academic of Pediatric (AAP) menyimpulkan MMR tidak terbukti menyebabkan autisme pada anak.

Setelah dilakukan audit oleh tim ahli penelitian di Inggris, terbukti bahwa dr Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulan dari hasil penelitiannya tidak bisa dibenarkan.

Pembuktian dari ahli vaksin dari 26 negara tersebut telah dipublikasikan di majalah resmi kedokteran Inggris, British Medical Journal, pada Februari 2011.

Mumps, Morbili, dan Rubela (MMR) merupakan vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit gondongan, radang buah zakar, campak, dan campak Jerman.

Dengan adanya pembuktian tersebut, dr Soedjatmiko, yang juga merupakan anggota Indonesia Technical Advisory Group for Immunization (ITAGI) mengharapkan orang tua untuk lebih peduli dan percaya bahwa imunisasi MMR aman untuk anak.

Sumber : Detik Health

Imunisasi Ini Wajib Diberikan Pada Bayi Anda

Jakarta, Imunisasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan sebagai bentuk pencegahan penyakit. Semua anak, dimulai sejak usia bayi, berhak mendapatkan pelayanan ini. Sebab jika tidak diimunisasi, banyak efek buruk yang bisa terjadi. Imunisasi apa saja yang wajib diberikan untuk bayi yang berusia di bawah 12 bulan?

baby Malika Cendekia

Berikut imunisasi yang wajib diberikan pada bayi berusia di bawah 12 bulan, seperti dikutip dari buku 'Rahasia Ibu Pintar: Panduan Merawat Bayi Pasca Persalinan Sampai 12 Bulan', yang ditulis oleh Nini Umi Nazwa:

1. BCG (Bacillus Calmette Guerin)
Vaksin ini wajib diberikan yang gunanya mencegah penyakit TB (Tuberkulosis). Vaksin BCG bisa 80 persen efektif mencegah TBC selama jangka waktu 15 tahun. Imunisasi BCG hanya dilakukan sekali, efektifnya saat bayi berusia 1 bulan. Suntikan ini akan menampakkan 'bisul' kecil di daerah yang disuntik. Bila tidak, harus dilakukan suntikan ulang.

2. Hepatitis B
Vaksin ini wajib diberikan ke bayi bahkan sebelum ia meninggalkan rumah sakit. Imunisasi ini merupakan langkah efektif untuk mencegah masuknya VHB, yaitu virus penyebab penyakit hepatitis B. Vaksin ini diberikan sebanyak 3 kali. Aturannya, bila suntkan ke-1 dilakukan pada usia 1 bulan, jangka waktu suntikan ke-2 antara 1-2 bulan kemudian, sedangkan suntikan ke-3 dilakukan sampai 5 bulan kemudian.

Vaksin ini melindungi bayi dari virus hepatitis B yang sulit disembuhkan yang mana balita bisa terkena dari ibu yang mengidap hepatitis selama proses persalinan.

3. Polio
Vaksin ini wajib diberikan karena ancaman polio yang masih ada. Vaksin ini untuk menangkal kelumpuhan akibat virus polio. Vaksin polio pertama diberikan setelah lahir. Kemudian vaksin ini diberikan 3 kali, saat bayi berumur 2, 4, dan 6 bulan. Pemberian vaksin ini bisa diulang pada usia 18 bulan dan 5 tahun.

4. DPT atau DTP
Vaksin ini wajib diberikan yang merupakan campuran dari tiga vaksin yaitu untuk mencegah penyakit difteri (yang menyerang tenggorokan), pertusis (batuk rejan), dan tetanus (infeksi akibat luka yang menimbulkan kejang-kejang).

Vaksin ini diberikan sebanyak 4 kali dan pertama kali saat bayi berumur lebih dari enam minggu. Lalu saat bayi berumur 4 dan 6 bulan. Suntikan terakhir biasanya diberikan saat anak berusia di atas 1 tahun.

5. Vaksin Campak, Gondong dan Rubela (MMR)
Vaksin MMR melindungi anak dari tiga virus: campak (yang menyebabkan demam tinggi dan ruam tubuh-lebar), gondong (yang menyebabkan rasa sakit wajah, pembengkakan kelenjar liur, dan kadang-kadang pembengkakan skrotum pada laki-laki), dan rubella atau campak Jerman (yang dapat menyebabkan kecacatan lahir jika infeksi terjadi selama kehamilan).

Vaksin ini pertama diberikan pada anak saat usia 12 hingga 15 bulan dan pada usia antara 4 dan 6 tahun.

"Imunisasi yang wajib itu misalnya polio, BCG, hepatitis, DPT, dan campak. Imunisasi itu sangat penting, fatal jika tidak diberikan khususnya pada penyakit-penyakit yang berbahaya. Jika tidak diberikan akan lebih besar kerugiannya," ungkap dr Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, dokter spesialis anak RS St Carolus sekaligus ketua Sentra Laktasi Indonesia, saat dihubungi detikHealth, dan ditulis pada Rabu (8/5/2013).

sumber : Detik Health